HONDA KUDUS JAYA. Kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat dengan city car yang mungil memang jauh dari kata serasi untuk dipasangkan, namun ternyata perpaduan tersebut justru dipilih oleh PT Honda Prospect Motor (HPM) untuk menunjukkan kebolehan Honda New Brio kepada para awak media.

Dua varian, yakni New Brio Satya sebagai produk Low Cost Green Car (LCGC) dan varian termurah Brio, serta New Brio RS sebagai varian terbaru dan termahal disajikan HPM untuk dibuktikan kebolehannya pada rangkaian media test drive bertajuk “Drive 2 Excitement” ini.

Diluncurkan pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016, April silam, New Brio mendapat berbagai penyegaran baik dari sisi  tampilan eksterior dan interior, maupun sisi teknisnya yang membuat city car di bawah Rp 200 juta ini agar semakin dilirik para konsumen di Indonesia.

Ya, baik New Brio RS dan Satya sama-sama mengalami facelift, tapi ada penyegaran lain yang lebih penting pada mesin dan transmisi otomatisnya. Mesin i-VTEC 1200cc sekarang sedikit meningkat dengan tenaga 89 hp dan torsi 110 Nm, sementara Continous Variable Transmission (CVT) berteknologi Earth Dreams yang menggantikan opsi transmisi otomatis 5-speed sempat membuat saya pertanyakan pemilihan rute test drive ke Puncak.

Seperti diketahui, karakter CVT umumnya cenderung lembut dan mengutamakan kenyamanan saat melaju dibanding memberi akselerasi spontan. Sementara naiknya output mesin berkat ubahan beberapa komponen internal, untuk tingkatkan performa dan tidak ketinggalan efisiensi bahan bakar.

New Brio RS
Saat test drive dimulai, saya mendapat giliran mencoba varian sporty dan paling mahal New Brio RS. Identitas Brio RS bisa dilihat dari grafik lampu utama dengan proyektor dan LED light guide, side skirt, garnish di kaca belakang, velg alloy 15 inci dan emblem RS di sejumlah sisi.

Ketika masuk ke dalam kabin, city car dengan banderol Rp 174,7 juta (On the road Jakarta) ini mendapat dashobard dengan desain baru, seragam dengan milik Jazz, BR-V, HR-V dan New Mobilio. Dominan warna hitam, dashboard Brio RS terpasang pusat infotainment layar sentuh 6,2 inci yang dapat mengakomodasi CD/DVD player, USB, serta koneksi iPod dan iPhone.

Setelah memulai perjalanan dari Sunter, Jakarta sampai Sentul City, Bogor dari kursi penumpang, Dapurpacu.com mendapat giliran menjajal Brio RS untuk sisa perjalanan hingga Puncak. Tidak begitu terasa perbedaan saat kami kemudikan santai mengelilingi kawasan Sentul City untuk mencari spot memotret.

Ketika kami memutuskan mengajaknya melaju lebih agresif, kami merasakan adanya jeda sepersekian detik antara input pedal gas dengan respon mesin saat pedal gas diinjak dalam. Meski CVT membuat perpindahan gigi nyaris tak terasa, namun akselerasinya seperti masih memerlukan lagi tambahan tennaga dan torsi.

Efek aplikasi CVT pada New Brio semakin terasa saat memasuki rute Ciawi yang menanjak dan macet, di mana torsi di putaran bawah kurang terasa saat kondisi lalu lintas stop-and-go. Mesin dan transmisi lebih bisa dinikmati justru saat kondisi jalan Puncak lancar, di mana torsi dan respon terasa responsif di putaran tengah ke atas, seperti umumnya karakter VTEC.

Sisi lain Brio RS yang juga patut diacungi jempol adalah pemakaian suspensi baru MacPherson Strut di depan dan H-Shape Torsion Beam di belakang yang disetel berkarakter sporty, meningkatkan percaya diri kami saat melibas tikungan demi tikungan di jalur berkelok Puncak.

New Brio Satya
Bisa dibilang antara New Brio Satya dengan Brio RS tidak perbedaan signifikan, kecuali soal tampilan eksterior dan interiornya. Dari luar, New Brio Satya mengusung bumper dan grille depan baru sama seperti pada Brio RS, sementara velg masih 14 inci.

Perbedaan paling mencolok justru ada saat masuk ke dalam kabin mobil seharga Rp 149,6 juta ini, di mana dashboard, trim, jok mengadopsi warna gading yang lebih terang. Head unit pun berbeda, tanpa layar sentuh namun punya kelebihan fungsi audio via AUX.

Soal performa, New Brio Satya tidak berbeda dengan Brio RS saat kami lajukan dengan rute kembali dari Puncak menuju Jakarta. Putaran setir yang ringan membuat mengemudikan mobil berdimensi kecil ini tidak merepotkan sekalipun di kondisi jalan yang sibuk.

Hal lain yang membedakan Brio Satya dan Brio RS adalah karakter lebih lembut pada suspensi, sehingga membuat berada di dalam kabinnya sedikit lebih nyaman, khususnya saat menjumpai kondisi jalan kurang baik. Meski suspensi lebih lembut, pengendaliannya saat melewati jalan berliku masih sebaik Brio RS.

Kesimpulan
Dengan hasil konsumsi bahan bakar terendah 17 km/liter selama perjalanan, HPM ingin menunjukkan New Brio RS dan Satya dengan CVT tidak hanya hemat bahan bakar, tetapi juga cukup tangguh untuk dibawa ke kawasan yang di luar habitatnya.

Dengan sejumlah penyegarannya, New Brio menjadi salah satu city car terlengkap di segmen 1200cc di antara Toyota Etios Valco, Mitsubishi Mirage, Nissan March dan Kia Picanto. Sumber : Dapurpacu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *